Showing posts with label Book. Show all posts
Showing posts with label Book. Show all posts

Monday, April 23, 2012

Selamanya Cinta

Huaaa... akhirnya bisa menyelesaikan satu buku lagi.. *hattchuuu~*

Bukan.. bukan buku literatur buat kajian teori.. tapi buku novel yang judulnya adalah SELAMANYA CINTA karya Kireina Enno.


PLOT
Ini seputar kisah seorang Dita Ananda. Dita  adalah seorang penulis novel romantis yang novelnya sedang marak diperbincangkan banyak orang. Saking bagusnya cerita yang dikarang Dita, banyak yang bertanya-tanya apakah cerita tersebut berdasarkan kisah nyata.

Ini juga kisah empat orang sahabat, Reina, Abe, Teddy, dan Dinda--tapi yang lebih terutama adalah Reina dan Abe. Keduanya bertolak belakang. Keduanya bersahabat. Keduanya hampir selalu berdua sampai dikira pacaran. Yaah, seandainya saja itu benar.

Selama tiga tahun Reina dan Abe bersahabat dan akhirnya juga saling suka, tidak sekalipun keduanya berani menyatakan perasaan masing-masing kepada satu sama lain. Semuanya juga atas nama 'persahabatan'.


My Thoughts
Jujur ya, gue bahkan enggak tahu kalau ini berasal dari post di blog. Baru tahunya saat membaca kata pengantar yang ada di buku ini. Jadi bener-bener membeli karena cap cip cup choco chip ajaib  dan karena gue lagi butuh hiburan.

However, gue cinta banget sama novel ini. Let me explain you how much I'm so into this novel.

Ehm... here we go...

 I so love this novel that even though I caught a flu, I couldn't sleep after finish reading it and felt that I had to review it first. Yes people, this review is fresh from the oven, written in 2.23 am, so hope you mind my absurd writing style  and wrong grammar here&there.

Alasan pertama adalah novel ini mengingatkan zaman gue masih SMA. Bukan, bukan zaman menjalin kasih sih, tapi zaman guesangat menikmati teen-lit. Eh, tapi in a way, memang keinget pengalaman pribadi pas SMA sih, terutama bagian ke perpustakaannya.

Alasan kedua, agak ketebak sih, ya karena si Abe itu. He's the typical bad boy who attracts readers. Suka cari masalah, dapat masalah, bikin masalah, and yet pembaca malah makin suka sama Abe. Bahkan gue sempat berpikir, "Ih, Harris kalau masih SMA kayak Abe kali ya. Bedanya kalo Harris nganterin bubur ayam, Abe nganterin roti.">> Jadi catet ya cowok-cowok, kegantengan cowok itu semakin bertambah ketika dia nganterin makanan buat cewek. *Halah! XD

Waktu pertama kali membaca bab-bab pertama, gue merasa yakin jalan ceritanya akan berakhir gimana. Tipikal sih, awalnya saling kurang suka, terus sahabatan, diam aja karena takut merusak persahabatan, eh paling juga jadian .

Apakah itu perkiraan gue beneran terjadi?? Yeah, tapi dengan twist yang seru banget--which takes us to the ULTIMATE reason why I love this novel. Nah, kalau review novel-novel gue yang sebelumnya, twistnya 'kan cuma sedikit-sedikit. Novel ini punya twist yang bener-bener beda, the kind of twist that I met in 'Test Pack'. Maklum ajalah, gue murni enggak pernah baca blognya Enno-san.  Iya, bagi yang belum baca blognya pasti bakal kaget banget sama akhir ceritanya. Jujur, gue merasa dipermainkan (in a good way kok). Sesaat gue  pikir pasti 'ini' yang akan terjadi, pasti 'ini' adalah 'ini'.. Pokoknya penggunaan nama tokohnya bener-bener membuat gue yakin dengan perkiraan gue, tapi JENG JENG~ ternyata dalam beberapa hal guesalah besar. Hahaha. 

Kesimpulannya: Walaupun temanya memang tipikal, tapi karena  gaya cerita dan twist yang berbeda, membuat buku ini seru dibaca dan wajib dijadikan koleksi .

Monday, March 26, 2012

Happy 38th Birthday, Gramedia!

Semuanya bermula dari @Silphee yang secara enggak nyambung menjawab tweet saya:


Penasaran dong saya. So I clicked Gramedia's fanpage and found out about the birthday greeting competition. Kesan pertama saat membaca pengumuman ini:
Hee? Gramedia Pustaka Utama udah  berumur 38 tahun???? 
Wew, kalau di novel-novel metropop dan harlequin, biasanya bakal jadi incaran cewek-cewek buat dijadiin suami nih saking sudah matang dan mapan, hihihi ...

Okay,kembali ke ucapan selamat ini. Hmm, kayaknya kalau cuma kasih ucapan selamat ada yang kurang. Yah kayak dangdut,tapi  enggak pake goyangannya (entah itu sekedar jempol, pinggul, ngebor, gergagaji,ngecor, dan alat konstruksi lainnya.) Jadi, gue akan memanfaatkan kesempatan ini untuk curhat colongan deh.

Dear GPU,

KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB!!!!! 
Kamu membuat rumah saya semakin sempit. Tidak percaya? Ini buktinya:



Bahkan itubelum semuanya. Saking banyaknya, ada juga yang harus dimasukin ke kardus.
Belum cukup buktinya?
Kamu udah membuat saya galau tiap muncul buku-buku baru saat duit harusnya dihemat karena udah dihabisin buat ngeprint belasan denah segede A1. Apalagi saat keluar bukunya enggak cuma 1 dalam sebulan. Hal ini membuat saya semakin bokek karena ngeborong novel.

Kamu membuat udah membuat saya jadi kekurangan mainan sebagai seorang anak SD. Sejak saya kenal buku-bukunya Enid Blyton, Roald Dahl,C.S. Lewis dan K.A Applegate di perpustakaan, saya jadi ketagihan baca novel.  Sejak saat itu, kalau lagi jalan orang tua jadinya saya minta dibeliin buku, bukannya mainan (boro-boro deh Poly Pocket!). Masa SD-SMA saya habiskan di perpustakaan buat nyari novel-novel GPU jadul yang enggak ada di toko buku Gramedia.

Pas masuk kuliah, kamu membuat saya jadi seorang hopeless romantic gara-gara Chick-Lit,Metropop dan Harlequin. Kamu membuat saya jadi suka sama vampir berglitter bernama Edward Cullen. Terus saya juga dibikin nangis-nangis sambil senyum-senyum kalau baca The Notebook, Ca Bau Kan, Time Traveler'sWife.

Tuh kan! Udah bikin saya bokek, mendadak jadi geek  yang labil/galau, dan bikin rumah saya makin sempit selama 14 tahun, harusnya saya membenci kamu.

HOWEVER.....
Tetep aja saya enggak bisa membenci GPU.

Kenapa? Karena kamu punya arti tersendiri buat saya (etsaaah,bahasanya, Jo!). Tapi serius lho, novel-novel terbitan GPU-lah yang  membuka pintu minat saya ke dunia membaca cerita fiksi tak bergambar. Saya sendiri jadi makin suka membaca. Saking sukanya sama membaca novel fiksi :
  1. Saya jadi ce-esan sama Pustakawati di perpustakaan sekolah. Anak lain terlambat balikin buku dimarahin, saya cuma dicengegesin.
  2. Masa-masa remaja saya enggak  sestress temen-temen lainnya pas pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, terutama kalau disuruh ngebikin sinopsis, resensi novel, dan percakapan drama. Sepotong kue banget karena udah terlatih.  
  3. Novel-novel terbitan GPU udah saya anggap seperti salah satu cemilan saya. Kalau ingin ketemu sama yang ajaib-ajaib so sweet, tinggal baca novel-novel fantasi. Kalau lagi bosen, baca novel GPU bisa terhibur. Kalau lagi stress kenapa tugas-tugas ini enggak ada ujungnya, baca lagi.. eh, selesai baca kok jadi punya ide. Kalau lagi lesu, terus baca novel kayak Antologi Rasa, eeeeh jadi semangat lagi gara-gara si Harris.
  4. Eeeh, sekarang jadi suka bikin cerita romantis. (*tetep sinyal,hahahaha) Oh well, walaupun semuanya masih dalam bentuk draft dan sebagian besar masih numpuk di otak saya,tercampur sama teori pencahayaan.
So, for introducing me to fun reading world and making my plain life become colorful, I Thank You, GPU.
I wish you a very a happy birthday. Keep publishing great books so in the future I could teach my children the joy of reading that you showed me by your books. And last, but not least, a little birthday cake for you. Enjoy! :)



*All photos are taken by Joan Christine

Friday, March 23, 2012

My T-shirt has arrived!!!

Akhirnya setelah dua minggu menunggu T-shirt #teamharris sampai juga di tangan. Mari bersama-sama kita teriakkan: BANZAI!!BANZAI!! XD

Haha,untung aja mesen yang S. Ternyata pas di badan. Ga kegedean,apalagi kekecilan. Pokoknya fit like a glove lah! :)

Mind the Background. Taken at CF's change room.



 Makasih @jesicastephanie yang mesenin. Makasih juga @Silphee yang nganterin kaosnya ke gue padahal mau pergi ke Pluit. Sini saya cium satu-satu! XD

Thursday, March 22, 2012

Did I Ever Tell You How Lucky You Are?

Since the last post I'm discussing about Dr. Seuss' story adaptation, I might as well share my another favorite story of Dr. Seuss. This is a story about being thankful for who you are.

Did I Ever Tell You How Lucky You Are?

 
(i do not own this video. the video credit belongs to random house home video)

When I was quite young
and quite small for my size,
I met an old man in the desert of Drize.
And he sang me a song I will never forget.
At least, well, I haven’t forgotten it yet.

He sat in a terribly prickly place.
But he sang with a sunny sweet smile on his face.


When you think things are bad,
when you feel sour and blue,
when you start to get mad…
you should do what I do!

Just tell yourself, Duckie,
you’re really quite lucky!
Some people are much more…
oh, ever so much more…
oh, muchly much-much more
unlucky than you!

Be glad you don’t work on the Bunglebung Bridge
that they’re building across Boober Bay at Bumm Ridge.
It’s a troublesome world. All the people who’re in it
are troubled with troubles almost every minute.
You ought to be thankful, a whole heaping lot,
for the places and people you’re lucky you’re not!

Just suppose for example,
you lived in Ga-Zayt
and got caught in the traffic
on Zaty Highway Eight!

Or suppose,
just for instance,
you lived in Ga-Zair
with your bedroom up here
and your bathroom up THERE!

Suppose, just suppose, you were poor Herbie Hart,
who has taken his Throm-dim-bu-lator apart!
He never will get it together, I’m sure.
He never will know if the Gick or the Goor
fits into the Skrux or the Snux or the Snoor.
Yes, Duckie, you’re lucky you’re not Herbie Hart
who has taken his Throm-dim-bu-lator apart!

Think they work you too hard…?
Think of poor Ali Sard!
He has to mow grass in his uncle’s back yard
and it’s quick-growing grass
and it grows as he mows it.
The faster he mows it, the faster he grows it.
And all that his stingy old uncle will pay
for his shoving that mower around in the hay
is the piffulous pay of two Dooklas a day.
And Ali can’t live on such piffulous pay!

SO…
He has to paint flagpoles
on Sundays in Grooz.
How lucky you are
you don’t live in his shoes!

And poor Mr. Bix!
Every morning at six,
poor Mr. Bix has his Borfin to fix!
It doesn’t seem fair. It just doesn’t seem right,
but his Borfin just seems to go shlump every night.
It shlumps in a heap, sadly needing repair.
Bix figures it’s due to the local night air.

It takes him all day to un-shlump it.
And then…
the night air comes back
and it shlumps once again!

So don’t you feel blue. Don’t get down in the dumps.
You’re lucky you don’t have a Borfin with shlumps.

And, while we are at it, consider the Schlottz,
the Crumple-horn, Web-footed, Green-bearded Schlottz,
whose tail is entailed with un-solvable knots.
If he isn’t muchly
more worse off than you,
I’ll eat my umbrella.
That’s just what I’ll do.

And you’re lucky, indeed, you don’t ride a camel.
To ride on a camel, you sit on a wamel.
A wamel, you know, is a sort of a saddle
held on by a button that’s known as a faddle.
And, boy! If your old wamel-faddle gets loose,
I’m telling you, Duckie, you’re gone like a goose.

And poor Mr. Potter,
T-crosser,
I-dotter.
He has to cross t’s
and he has to dot i’s
in an I-and-T factory
out in Van Nuys!

Oh, the jobs people work at!
Out west, near Hawtch-Hawtch,
there’s a Hawtch-Hawtcher Bee-Watcher.
His job is to watch…
is to keep both his eyes on the lazy town bee.
A bee that is watched will work harder, you see.

Well…he watched and he watched.
But, in spite of his watch,
that bee didn’t work any harder. Not Mawtch.

So somebody said,
“Our old-bee-watching man
just isn’t bee-watching as hard as he can.
He ought to be watched by another Hawtch-Hawtcher!
The thing that we need
is a Bee-Watcher-Watcher!”

WELL…

The Bee-Watcher-Watcher watched the Bee-Watcher.
He didn’t watch well. So another Hawtch-Hawtcher
had to come in as a Watch-Watcher-Watcher!
And today all the Hawtchers who live in Hawtch-Hawtch
are watching on Watch-Watcher-Watchering-Watch,
Watch-Watching the Watcher who’s watching the bee.
You’re not a Hawtch-Watcher. You’re lucky, you see!

And how fortunate you’re not Professor de Breeze
who has spent the past thirty-two years, if you please,
Trying to teach Irish ducks how to read Jivvanese.

And think of the
poor puffing Poogle-Horn Players,
who have to parade
down the Poogle-Horn Stairs
every morning to wake up
the Prince of Poo-Boken.
It’s awful how often
their poogles get broken!

And, oh! Just suppose
you were poor Harry Haddow.
Try as he will
he can’t make any shadow!
He thinks that, perhaps, something’s wrong with his Gizz.
And I think that, by golly, there probably is.

And the Brothers Ba-zoo.
The poor Brothers Ba-zoo!
Suppose your hair grew
like theirs happened to do!

You think your unlucky…?
I’m telling you, Duckie,
some people are muchly,
oh, ever so muchly,
muchly more-more-more unlucky than you!

And suppose that you lived in that forest in France,
where the average young person just hasn’t a chance
to escape from the perilous pants-eating-plants!
But your pants are safe! you’re a fortunate guy.
And you ought to be shouting, “How lucky am I!”

And , speaking of plants,
you should be greatly glad-ish
you’re not Farmer Falkenberg’s
seventeenth radish.

And you’re so, so lucky
you’re not Gucky Gown,
who lives by himself
ninety miles out of town,
in the Ruins of Ronk.
Ronk is rather run-down.

And you’re so, so, So lucky
you’re not a left sock,
left behind by mistake
in the Kaverns of Krock!

Thank goodness for all of the things you are not!
Thank goodness you’re not something someone forgot
,
and left all alone in some punkerish place
like a rusty tin coat hanger handing in space.

That’s why I say, “Duckie!
Don’t grumble! Don’t stew!
Some critters are much-much,
oh, ever so much-much,
so muchly much-much more unlucky than you!”

—Dr. Seus

Tuesday, March 20, 2012

Good Fight


 

THE PLOT
Dia tak benar-benar mencintaimu, kau dan aku sama-sama tahu itu.

Dibawakannya kau bunga, tetapi bukan kesukaanmu. Digenggamnya jemarimu, tetapi tidak cukup mesra. Dia mencium bibir indahmu, lalu cepat-cepat menyudahinya.

Puaskah kau dengan cinta seperti itu?

Sampai kapan kau terus duduk di situ, menunggu dia berbalik menginginimu?

Berhentilah mengabaikanku.

Tak bisakah kau memberiku kesempatan juga? Lirik aku sebentar saja. Dengarkan aku sebentar saja. Biar aku buat kau percaya, hanya aku yang bisa membuatmu bahagia.

Hanya aku—bukan dia. (from Gagas Media fanpage on facebook)
 =====================================================
Say hi to Tere, a 20 something fashion editor at Mascara. 

Like everybody else, she has a secret that she keeps from anybody else, including her galpal. Lately, she's becoming  a girlfriend of an engaged man, named Indra. Okay, in her defense, she met him first. It's just that his parents won't approve and made him engage to somebody else. Plus, Indra  loves her and likewise. So why not, right?

Also, say hi to Tere's enemy, Jetro--or Jet, he's a photographer who works at Manner and Mascara. Tere enggak habis pikir kenapa cewek-cewek, bahkan Rian sekalipun, naksir cowok ini. Okelah badannya bagus. Okelah mungkin dia ganteng. Tapi untuk urusan sikap, all the things he does cuma bikin keki Tere.

But that particular day... Jet found out her secret. Came to her surprise, Jet didn't judge her like people would have done if they'd found out,too. That day, Tere learned that Jet also has a similar dilemma. Jet is also a boyfriend from....wait for it.... a married woman. 

MY THOUGHTS

Begitu temen gue ngepos bahwa Christian Simamora bakal nerbitin buku, gue langsung antusias. Like I said in my previous post before,  Christian Simamora is of my front-runner for romantic comedy novelists. I love all the books he wrote before. 

Nah,pas gue menemukan bukunya di Gramedia. Awalnya gue rada kaget, beh! Tebel amat! Harganya Rp 57.000,00 pula! Jadi dengan berat hati (maklum minggu seret dan dompet menipis), gue pun membawa pulang buku ini ke rumah.

But, boy , it was all worth it!!!

Dari segi tema memang enggak biasa. This is a story about cowok dan cewek yang sama-sama dijadikan simpanan. The thing is alurnya  ketebak banget  mau dibawa ke mana mereka berdua ini. 

However, K'Christian berhasil membuat pembacanya--at least gue sih--sama sekali enggak bosan melahap semua 30 bab yang ada di buku ini. Cara menceritakan dengan bahasa yang oh-so-witty, campur-campur, dan enggak formal membuat gue senyum mesem-mesem dan ketawa. Dan sebagai kategori novel dewasa, Good Fighr berhasil bikin gue geleng-geleng saking labilnya. Catet ya, baru halaman 14 aja udah bikin labil! hahaha.

Oke..lanjut ke tokoh utamanya. Di sini, si penulis ingin ngasih lihat bahwa orang yang rela jadi selingkuhan itu enggak selalu orang  jahat. Bodoh mungkin, tapi enggak jahat. But, oh well, namanya juga cinta. Just like what the old saying once said " Love is Blind". Itu enggak hanya berlaku mengenai cinta enggak melihat kulit ras, kaya-miskin,lalala aja ya. It also can be practiced to an affair case. No matter how wrong the thing actually is, we'll find a reason to justify our action in the name what-so-called Love.

Blind Love. You know you aren't suppose to dance with your eyes closed. That makes you don't realize there are scary things around you, waiting to jeopardize you. And what do you do? You put a blindfold called "love".. -___-"
Picture taken from here :http://lovephrases.wordpress.com/2011/06/03/blind-love/

Menurut gue sendiri, tindakan Jet dan Tere ini sih enggak patut dicontoh. Gue merupakan salah satu yang percaya dengan prinsip : "Kalau kamu mencintai seseorang, kamu enggak akan menempatkan orang yang kamu sayangi itu di posisi yang sulit, terutama cuma buat dijadiin simpanan." dan "Kalau dia selingkuh dari pasangannya demi kamu, mungkin dia akan melakukan perbuatan yang sama terhadap kamu suatu hari nanti."

What makes me still have respect for our main characters is they're willing to set things right. Enggak semua orang berani mengakhiri hubungan yang  udah salah dari awal atas alasan cinta dan harga diri. So, for that, I give them A for wonderful and brave efforts. Also I think, everyone who really serious to make an atonement is deserved to have second chance :)


Oh iya, ada satu lagi yang gue suka dari cerita ini. I love Rian!!! Too bad cerita antara dia dan Dani termasuk pendek. Arrgh, me want more Rian-Dani!! XD  (Harap maklum ya, I'm one of those girl who thought love between gay people can be as sweet as straight couple can be,even sweeter.)





 

Sunday, February 26, 2012

Joan Loves.... Flavor of Love

PLOT (from gagasmedia&penambahan sendiri)
Aku mencandu segala hal yang manis—terutama dirimu. Seperti madu di ujung lidahku, kecupanmu terasa manis, menghangatkan sekujur tubuhku dengan rona malu. Seperti tiga sendok gula untuk tehku, entah sejak kapan hariku tak lagi lengkap tanpa kehadiranmu.

Jadi maaf jika aku seperti tak tahu malu mengakui ini di hadapanmu. Tapi sungguh, aku teramat membutuhkanmu. Butuh sekian lama waktu untuk menyadari ini, tapi sekarang aku benar-benar percaya. Hanya kau yang kumau. Hanya kau yang mampu membuatku merindu.

Katakan, apa jawabmu? Harus seberapa lama lagi bibirku mengering karena menahan diri membisikkan cinta untukmu?

==============
Meet Pru, 20-something young woman, yang bekerja di majalah lifestyle ternama Medan bidang kuliner. Atas ide Aro, teman/tetangganya, Pru membuat sebuah blog yang berjudul "Pure Prue". Blog ini digunakan Prue sebagai penyaluran kalau dia lagi bosen menulis tentang kuliner melulu.

Supaya enggak terkesan biasa dan menarik dibaca, Pru memutuskan untuk membahas seputar pernikahan di blognya. Bukan masalah do or don'ts menjelang resepsi pernikahan sih, tetapi lebih kepada kenapa cowok susah banget berkomitmen, baik untuk menikah atau yang sesimpel seperti pacaran, dan masih banyak lagi.

Tapi kita enggak hanya melihat post-post di blog Prue. Kita juga akan melihat bagaimana kehidupan sehari-hari Prue beserta teman-temannya yang akhirnya menjadi ide di balik tiap post yang ada di dalam blognya.

My Thoughts

Emang gagas media paling jago bikin sinopsis buku yang bikin orang enggak ketebak ini novel ceritanya tentang apa!! Bahkan novel historical romance (yang enggak pernah saya beli ya,saudara-saudara) jauh lebih bermurah hati ngasih tahu tentang apa inti cerita novel itu.

Awalnya gue agak ragu untuk membeli novel ini. Why? Gue emang bukan penggemar cerita romantis written by men. Cerita romantis karangan cowok yang selama ini gue baca dikit banget yang bagus dan menarik. Nicolas Sparks selalu bikin mewek dan pasti ada yang mati. Shakespeare selalu punya tokoh-tokoh dengan konfliknya rada ridiculous menuju kiplik (bahasanya aja yang ribet). Terus 3 metropop yang baru-baru ini terbit which written by men, semuanya enggak menarik, ngebosenin, dan terkesan maksa. Pokoknya baru Remy Sylado,Christian Simamora, dan Andrei Aksana yang berhasil menampilkan cerita romantis yang enak dibaca dan bikin gu ketagihan. 

Tapi yaah..lihat sendiri deh betapa sampul novel ini  bikin ngiler. Mana saat itu,pas banget  gue lagi kelaperan.. Akhirnya gue pun membeli buku ini. (*Yeah, guys. Sometimes  I bought a book for an absurd reason _l7o)

Oke, to be fair, alur ceritanya emang rada ketebak. Begitu juga dengan jenis tokoh utama dan antagonis yang ada.  It's about girl grew up with a boy, people tease them how they meant for each other, both denied that particular fact,and so on. Novel ini semakin lengkap dengan  keberadaan tokoh antagonis yang terkenal: the young and beautiful sexy woman yang kecentilan dan menganggap dirinya sebagai pusat tata surya. Tahulah ke mana cerita ini akan berlanjut.

However, gue tetap menyukai novel ini. Meskipun mengambil setting di Medan, penulis masih bisa menghadirkan conversation antar tokoh yang enak dibaca  dan ada lha beberapa funny scene yang enggak terlalu  maksa .Pengalaman gue dengan novel berlatar sama, gue ngerti sih maksudnya karena mereka kebawa cara ngomong tempat mereka tinggal,but still....

Untuk soal tokoh cowoknya. Dari semua tokoh cowok yang ada, gue suka kok Mastaro alias si Aro ini. Dia emang chubby, boro-boro bersix-pack, but he's a sweet guy, yang bersikeras nganterin Pru (or at least memastikan dia bakal sampai dengan selamat di rumah) karena udah janji sama bapaknya Pru untuk ngejagain sahabatnya itu.Sepele sih, tapi itu bikin gue lumer.

Menurut gue,nilai plus di novel ini memang dari sisi post blognya. Post-postnya mencoba menguak semua alasan yang mungkin dipakai cowok untuk menghindari berkomitmen.Selain itu, post-post ini menawarkan solusi mengenai berkompromi saat menyangkut menjalin hubungan bagi cewek dan cowok. Yah, cocoklah untuk dibaca semua cewek-cewek di luar sana yang sedang tidak jelas mau dibawa hubungan mereka sama si cowok.

Lastly, Gue  amat sangat  menghargai usaha pengarang yang berpihak pada perempuan berkaitan soal komitmen tanpa terlalu menjatuhkan kaumnya di dalam post ini.

Hmm...Kayaknya cowok-cowok perlu baca post-post yang ada di novel ini deh. xixixixi

Conclusion
Cerita yang so sweet dan  gampang ketebak,tapi tetap sangat asyik buat dibaca sambil ngemil cupcake. Yang menjadi nilai tambah di sini bagi gue adalah intermesso berupa blog sebelum memulai maupun mengakhiri bab dalam novel.
Ini adalah salah satu novel romantis karangan cowok yang menurut gue sama sekali enggak 'sucks'.




Monday, February 20, 2012

My Ridiculous, Romantic Obsessions

 

Saat pertama kali gue melirik buku ini di Gramedia, gue langsung tertarik dengan judul bukunya. Hmmm.. kayak kenal tipe-tipe cewek ini.. *lirik Jeje..

Okay.. I'll admit it.. I bought it because its title was so me. Then, while reading its synopsis, there were some questions asked in my mind which would decide whether I'd bought it or not..   Am I the tall,skinny young woman with silky long hair? Cross that one out.The regular girl? Check. Have a crazy curly hair? Check. Do I have a lil bit of obsession with romantic stories? Double check. Do I imagine my self as a heroine in a romance scene or imagine handsome guys I met as the hero of my love story? Check and check.

See, I totally have to buy this book. haha



THE PLOT (from atria.com)

Ini adalah kisah cewek bertemu cowok. Cowoknya tampan sementara si cewek biasa-biasa saja, dengan rambut ikal yang liar seperti medusa. Ih. Ada kesalahpahaman, tokoh antagonis yang kejam, dan pernyataan cinta yang tepat waktu .... Yah, baiklah, ini memang cerita romantis. Tapi tolong dicatat, tidak ada perempuan berpakaian ketat di pelukan perampok berotot di sampul tipisnya; aku bukan cewek seperti itu.

Aku seorang cewek yang sehari-harinya menjalani kehidupan normal. Dan aku tidak bisa mengerti kenapa Ben—yang setampan dewa Yunani—ingin menjadi temanku. Apakah karena kami berdua bisa bermain gitar dan menyukai es krim dengan rasa yang sama? Atau apakah dia ingin dekat-dekat denganku agar aku bisa membantunya menyelesaikan tugas kuliah? Kuharap tidak, karena aku sama sekali tidak tertarik pada cowok yang memanfaatkan cewek seperti itu. Tidak, terima kasih.

Tapi aku sangat tertarik pada Ben. Dia benar-benar pria terhormat—tokoh jagoan dalam novel romantis sungguhan. (Seperti Mr. Darcy yang terdaftar di kelas sejarah seniku.) Mungkinkah ini nyata? Ataukah obsesi romantisku yang konyol berhasil mengelabuiku—sekali lagi?

MY THOUGHTS 
Basically, this is the typical American teen-lit plot. An ordinary girl with crazy hair and super low self-esteem meets a super handsome guy. The guy acts so nice in front of the girl because he has feelings for her.But, the girl wouldn't dare to think that this guy is actually love her. She even thinks that she's not good enough for this perfect handsome guy.

So let's meet the girl and the boy:

1) Sarah. Yang membuatnya sedikit berbeda dan jadi lucu karena Sarah (tokoh utama novel ini) adalah pencinta berat novel historical-romace. Kita bakal melihat perdebatan batinnya Sarah yang rada terlalu Harlequin. Enggak cuma itu aja, kita juga bisa melihat bagaimana cara Sarah mendeskripsikan Ben dengan lebai dan sangat historical-romance novel banget.Bahkan argumentasinya mengenai wether Ben likes her atau masalah she's not the main character itu berdasarkan apa yang dia dapatkan dari novel-novel yang dibacanya.
Pasti banyak deh yang bisa relate sama tokoh ini, termasuk gue. Gue ngerti kok perasaan Sarah tentang rambutnya. Gue aja dulu saking merasa berambut keriting adalah kutukan, akhirnya mutusin untuk ngelurusin rambut selama bertahun-tahun.Yah,walaupun gue enggak sampai mendeskripsikan cowok yang gue suka sebagai knights in shining armour, gue juga masih suka berharap kalau someday my soulmate will come.

2) Ben, the 'perfect' guy. Hampir setengah buku ini, kita akan disajikan bagaimana sempurnanya Ben di mata Sarah dan bagaimana unyu perlakuan Ben terhadap Sarah. Gimana enggak? Ben yang selalu duluan mengambil inisiatif, such as selalu nelepon, selalu nungguin Sarah keluar kelas, rajin ngapel ke rumah Sarah, dsb. Intinya, he might  not be that perfect (I won't tell you what his imperfection is,xixixi) for real world, but he's definitely the perfect male character in romantic story.

Pesan besar dari buku ini sih masih sama, mau menyemangati semua cewek di luar sana untuk percaya diri and gives a little credit to  themselves. Also, don't let the horrible thing that happen to you in the past gets in your way towards the happy future that awaits you. You're one of a kind. Most importantly,You're deserved to be loved.

Gue pribadi menganggap buku ini agak nyindir, like Jane Austen in her novel Northanger Abbey.
There is such thing as too much reading/watching romantic stories. It makes you stand  in a grey area between reality and fiction. You will picture your life with "if this were in a movie/novels...". Or worse, you will live your life based on romance fiction and a statement "this is possible/impossible to happen! Because in this movie/novels said that...." Those kind of mindsets are not healthy because they  will give you another effects,such as:

1). Prince-charming syndrome.


 When you read/watch too much of romantic stories, you will build a certain image about the man who will come down on his knee and propose you. Bukannya itu jelek sih. Wajar aja kalau kita menginginkan pria baik-baik sebagai pasangan kita. Mulai enggak wajar adalah  saat kita memberi patokan harga mati kalau pria itu enggak sempurna seperti gambaran  hero in romantic story, then he's not the one. I mean, nobody's perfect. Even those guys in romantic novels has flaws,too. Coba aja lihat si Ben di buku ini. Kalau belum cukup,lihat tuh Oom Beno, Harris... eh kok malah nyasar jadi novelnya Ika Natassa? hahaha

Sayangnya, si Ben yang di novel ini (bukan Oom Beno,xixixi) masih too good to be true. Jadinya malah bagian yang nyindir itu jadi enggak terlalu tergali banget.

2) You'll have low self-esteem.

I mean, let's get real. Novel romantis dengan tokoh utama cewek gendut, rambut keriting,pendek, kacamata, jerawatan, itu jarang. Paling banter di teen-lit aja. Bahkan teen-lit Indonesia juga enggak sebanyak itu. Hampir semua cerita novel romantis (remaja dan dewasa) menggambarkan tokoh utama ceweknya dengan fisik: rambut panjang,tubuh mungil atau ramping, tinggi,cantik. Iya sih ada satu aspek dalam hidupnya minta dikasihani. Tapi tetep aja, mereka selalu digambarkan  dengan fisik yang hampir sempurna.  Makanya, mereka bisa membuat tokoh cowoknya jatuh cinta atau yang kayak novel Harlequin suka mendeskripsikan dengan  " membuat sang pria tidak dapat menahan insting primitifnya ketika melihat sang wanita.".
membuat sang pria tidak dapat menahan insting primitifnya ketika melihat sang wanita

Nah hubungannya dengan self-esteem? It makes some of you believe that to have the perfect soulmate or the happy ending, you have to be at least physically BEAUTIFUL. Otherwise, you don't deserve the good things that life have to  you.  Padahal mungkin maksud si pengarang when they meant  'beautiful', they meant the beauty from the inside,too.
"TRUE BEAUTY COMES  FROM WITHIN."


At the end,baca novel romantis sih boleh-boleh aja kalau cuma buat selingan. Pokoknya, jangan sampai dibawa-bawa ke dunia nyata. Ya diseimbangkan saja :)



The Conclusion
This is the typical American teen-lit novel.  Masih tentang cewek yang tidak percaya diri. Masih berpesan bahwa di setiap diri orang pasti memiliki talenta masing-masing dan pantas mendapatkan yang terbaik dalam kehidupannya. Sebagai tambahan, novel ini mungkin mau berpesan : don't make novels as your guide book in your real love life. Those books are called fiction for a reason. It doesn't happen in REAL LIFE, darlings. ;)

Oh iya,alurnya mengalir dengan baik. Bahasa terjemahannya sangat enak untuk dibaca (gaul,tapi masih EYD).

If you're a hopeless romantic and enjoy  Harlequin/historical romantic story, this book is for you. xixixixi