Showing posts with label metropop. Show all posts
Showing posts with label metropop. Show all posts

Saturday, October 15, 2011

Joan Loves… Memborong 5 Metropop pas weekend kemarin : Miss Collector & Pemburu Cinta

Yo,minna-san..


Kali ini gue akan melakukan review sisa dari lima buku yg gue borong beberapa  minggu lalu. Sisanya tinggal Miss Collector & Pemburu Cinta.


1. Pemburu Cinta



Sinopsis:


Marlina, Leo, dan Katrin. Tiga pribadi yang berbeda latar belakang, cara pandang, dan tujuan hidup. Tetapi justru karena itulah persahabatan mereka menjadi kokoh. Marlina yang paling tidak bisa diramalkan tindakannya. Tujuan hidupnya tidak jelas, dan selalu berbuat sekehendak hatinya sendiri, termasuk dalam urusan pernikahan.  Kelihatan pas bosen kuliah, ke luar negeri,eeeh pas di luar negeri malah akhirnya kawin,pindah ke Surabaya, punya anak deh.


Bertolak belakang dengan Katrin yang berpikiran mantap dan tahu apa yang diinginkan dalam hidupnya. Dalam kamusnya, tak ada kata gegabah. Semua selalu diperhitungkan masak-masak.


Sedangkan Leo juga punya sikap hidup yang berlawanan dengan Marlina. Ia tipe orang yang tak punya banyak tuntutan dan puas dengan semua yang sudah digariskan untuknya.


Hidup pertemanan mereka menjadi semarak dengan kehadiran Reza, duda cerai yang berprofesi sebagai wartawan dengan gaya hidup yang amat metropolitan. Dan Clarissa, model cantik yang juga berprofesi sebagai sekretaris.

Kekompakan mereka diuji ketika masing-masing mencintai orang yang sama. Tetapi seperti kehidupan yang mesti selalu memilih, cinta pun demikian.

My Thoughts:


The cover's design is good. Berhasil menarik perhatian gue untuk mengambil buku ini dari displaynya. So 8 points for that...


The Story?It was okay... But I don't know. It's just not for me...Agak sinetron soalnya.


You would think that this story will center on those trio, well,kind of.. tapi bukan si Marlin-Leo-Katrin, melainkan Marlina-Katrin-Clarissa. Yang Leo enggak terlalu digali. Cuma pas pertama-tama aja pas dikasih tahu latar belakang Leo dan dia cuma muncul sebentar-sebentar.


Yang gue suka adalah konfliknya si Marlina. Suaminya ga terima kalau Marlina terlalu sibuk dan minta Marlina berhenti aja biar jadi ibu rumah tangga. Ya jelas lah, Marlina enggak mau. Wong suaminya aja tuh enggak punya kerjaan. Rumah aja hasil pemberian orang tuanya Marlina. Saking enggak terima perlakuan 'patriarkal' suaminya, dia berani ke Jakarta, bodo amat deh sama suaminya, biar di a sadar sendiri.Sampe di sini gue rada respect sama Marlina. Tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang.... wait, wrong plot!! Itu punya si AVATAR! hahaha


Oke,lanjut. Nah pas di Jakartanya ini,gue rada-rada pengen ngecubit pipinya Marlina. Jelas-jelas dia ke Jakarta bawa si Cherry,anaknya. Bukannya diurusin gitu kalo lagi waktu luang, eh waktu luangnya malah dipake buat ke klub dansa. Pake jadian segala lagi sama salah satu regularnya. Padahal si Marlina jelas-jelas masih belum resmi cerai--ralat,enggak mau diceraiin  gitu sama suaminya. Nakal ih , Marlina.( I wrote this in the middle of the night. Mind the labil mode laguange haha)


Gue spoiler dikit ya.  Gue kira tuh akhirnya tiga cewek ini jadinya suka sama LEO. Ternyata gue salah. Jadi tuh yang jadi bikin konflik adalah  REZA. Reza  pedekate sama Katrin dan Katrin pun merespon positif. Nah enggak cuma itu aja, Clarissa juga naksir sama Reza pas ketemu di lokasi. Sementara itu Marlina jadi kesengsem sama Reza saat cowok itu ngajak dia dansa. I know, Reza is a big Jerk. Kemudian hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Antara siapa sama siapa? Well, bagi yang masih penasaran,silahkan dibaca.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------


Yuuuk, lanjut ke Miss Collector.



Synopsis:


Aku merasa telah melakukan banyak kesalahan besar. Kesalahan pertama, karena aku bertemu Pohar. Kesalahan kedua, menerima tawaran kerja darinya. Kesalahan ketiga, terlalu antusias sehingga luput menanyakan detail posisi yang ditawarkan. Kesalahan keempat, terlalu cepat mengundurkan diri dari pekerjaanku. Kesalahan kelima, aku tak bisa menolak pekerjaan itu atau diriku akan jadi pengangguran. Rentetan kesalahan itu seperti kutukan yang mengikat diriku.


Devina syok. Tawaran kerja yang diterimanya ternyata untuk posisi yang sama sekali tidak pernah diimpikannya. Ia pun merencanakan pengunduran diri setelah masa training berakhir.

Namun sejak menagih utang Akmal Shah, segalanya berubah. Ia dipertemukan dengan Zaki. Dan target yang ia capai menjadikannya kandidat kuat untuk pelesiran gratis ke Singapura dan Malaysia.

Ketika Devina mulai menikmati pekerjaan barunya, berbagai masalah datang menyerang, membuatnya ragu, apakah akan meneruskan pekerjaannya atau mundur...

My Thoughts


GA SUKA.


Awalnya sih gue sedikit tertarik. Karena 2 alasan:


1)Ini salah satu dari sedikit buku yang berani mengambil setting utama di kota Indonesia yg  luar Jakarta,tapi bukan di Bali. Setting novel ini diambil di Medan. Kan seru tuh.


2) Kayaknya gue keracunan novelnya Ika Natassa ya. Jadi kayak belum kembung baca cerita ttg bankir, gue jadi pengen baca ttg debt collector. haha.


Konflik antar cewek-cowoknya sih standar. Cowoknya dikira pegawai mal,ternyata dia yang punya mall. Terus gara2 pekerjaan si cewek, gantian cowoknya yang salah paham,and so on so on.


Kalo soal bahasa,ya emang gaya orang  luar kota banget  ngomongnya. Jadi gue agak sedikit merasa aneh ngebaca dialog antar tokoh. Tapi bukan itu yang gue bikin gue enggak suka sama novel ini,melainkan:


1. Alurnya lambat sampai gue bosen dan akhirnya scheming aja bacanya. Gue ngerti sih kalo penulisnya ingin memberikan sedetail-detailnya pekerjaan nagih duit di bank, but pleasee.. too much.


2. Humornya maksa. He's trying too much. Misalnya aja nih:


a)penggunaan plesetan merk. Hal yang emang biasa dilakuin, tapi baru kali ini gue melihat super maksa. Ada satu adegan di mana ada yang nanya apa merk bajunya. Si cewek(gue lupa siapa) dengan bangganya bilang bajunya adalah merk mahal dari Paris,named PRETTY KTIEW. yeah, too cheesy, even for made up high-end brand from Paris.


b)Contoh lainnya adalah pas adegan Devina, Maya(bestiesnya Devina), papasan sama Zaki di Lift. Saking 'gantengnya' Zaki, Maya mencoba menarik perhatian si Zaki dengan menyanyi dangdut sambil joged-joged dangdut juga. For me, itu maksa banget. Kalo emang si Maya itu secara background pendidikan/pekerjaan selevel sama Devina, segila-galau-labil apapun dia,dia pasti cukup waras dan memilih jaim di depan cowok yang ditaksirnya (termasuk gue #eeh) atau memilih cara lain buat caper yang mungkin menurunkan image juga,tapi ga pake goyang dangdut. I mean, almost every girl in the world are trying to look her best when they're in front of man they like. Emang sih kadang-kadang metropop itu sah-sah aja kalau kadang-kadang tak ada logika, tapi masih ada yang harus make sense juga lha ya. Even DP yang nari di depan Jofriz di Pacar hantu perawan (*gue ga nonton. baru baca review blog yang gue  follow) terlihat enggak banget--let alone cool-- padahal lagunya THE TIME OF MY LIFE. Anyway, it's just my opinion. If you find that 'supposed to be funny-akward-scene is pure hilarious, be my guest.


TO SUM UP...dua novel terakhir ini adalah novel terlama yang gue baca. Butuh seminggu lebih buat nyelesainnya, terutama si Miss Collector. Gue masih bisa merekomedasikan untuk membeli PEMBURU CINTA karena dia punya twist yang cukup bagus buat endingnya.


Tapi,kalo Miss Collector? Jujur aja, kalo buat gue, mending minta pinjeman dari orang lain ya. Hmm, tauk gini gue suruh @Silphee aja yang ngebeli novel Miss Collector. *kabur sebelum dijitak Silphee XD

Tuesday, October 4, 2011

Joan Loves.... Memborong 5 Metropop pas weekend : A Very Yuppy Wedding

ADA DUA PIHAK YANG INGIN GUE SALAHKAN di pos ini:

1. Ika Natassa yang udah ngarang ANTALOGI RASA dan karenanya gue jadi penasaran sama buku-buku karangan doi  yang lain.

2. @Silphee yang ngasih tahu bukunya Ika Natassa dicetak ulang. Alhasil, gue yang udah ngeborong 3 metropop pas hari sabtu,ngeborong 1 lagi pas hari Minggu barengan Silvi. akakka



Sinopsis(from gramediapustakautama.com):

The life of a business banker is 24/7, dan bagi Andrea, banker muda yang tengah meniti tangga karier di salah satu bank terbesar di Indonesia, rasanya ada 8 hari dalam seminggu. Power lunch, designer suit, golf di Bintan, dinner dengan nasabah, kunjungan ke proyek debitur, sampai tumpukan analisis feasibility calon nasabah, she eats them all. Namun di usianya yang meninjak 29 tahun, Andrea mungkin harus mengubah prioritasnya, karena sekarang ada Adjie, the most eligible bachelor in banking yang akan segera menikahinya. So she should be smiling, right?

Not really. Tidak di saat ia harus memilih antara jabatan baru dan pernikahan, menghadapi wedding planner yang demanding, calon mertua yang perfeksionis, target bank yang mencekik, dan ancaman denda 500 juta jika ia melanggar kontrak kerjanya. Dan tidak ada Manolo Blahnik atau Zara atau Braun Buffel yang bisa memaksanya tersenyum di saat ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan karier yang telah ia berikan untuk Adjie tidak sia-sia, ketika ia menghadapi kenyataan bahwa tunangan sempurnanya mungkin berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.

Welcome to the world of Andrea Siregar, the woman with the most rational job on the planet as she is making the most irrational decisions in her own personal life.

My thoughts:

Sebelum membuat review ini, gue ngebaca dulu review-review yang dibuat oleh orang lain sebagai referensi. Enggak sedikit yang bilang agak enggak suka sama buku yang satu ini. I hate to admit it, but I kinda agree with them. Gue enggak sebegitu sukanya sama novel ini sampai kebawa-bawa mimpi banget.

Dari segi cerita, gue emang enggak terlalu menikmati banget. Kenapa? Soalnya gue agak gerah sama konflik yang ada di antara Adjie-Andrea. Itu-itu melulu. Kalo enggak masalah Andrea ga suka ngelihat Ajeng deket-deket sama Adjie or Adjie yang enggak suka ngeliat Andrea masih berhubungan sama Radit or ketawa-ketiwi sama cowok-cowok yang jelas-jelas ngedeketin dia. Emang sih ada masalah lain macem Andrea yang mau pindah ke bank lain or masalah rencana nikahnya,tapi tetep aja  cemburuuuu melulu yang dipermasalahin. Rasanya tuh gue pengen nampol Adjie-Andrea biar sadar. Duh ngerti banget deh gue sama perasaan Firman-Tania yang jadi temennya mereka.

Kalau dari gaya bahasanya,oke lha. Gue suka sama gaya bahasa yang dipakai. Ceritanya enak dibaca dan enggak hanya berkisaran sama  bahasa Indonesia-Inggris aja, sempet juga dimasukin bahasa Jawanya dikit-dikit. Walaupun konsep ceritanya rada yawning, tapi gara-gara  gaya bahasanya yang asyik si Ika yang membuat gue tetap bertahan membaca buku ini sampai halaman terakhir.

Since gue resmi menjadi penggemar Ika Natassa, gue akan membela dia. haha, kayak dia butuh dibela sama gue aja(secara tanpa gue ngebela,bukunya juga laris manis :D).

Mungkin karena ini novel pertamanya Ika dan gue baru bacanya pas udah ngebaca Antalogi Rasa(udah keburu jatuh cintaaa sama AR), gue merasa buku ini kurang  memuaskan. Mungkin kalo gue baca AVYW duluan, gue akan berpendapat beda. Terus kalau dibilang latar belakang tokohnya terlalu sama kayak penulisnya.... karena ini novel pertama,jadi mungkin aja kan dia ingin menulis dari apa yang paling dia mengerti supaya bisa menyajikan detail latar belakang yang bagus juga. Kan best write about what you know best(gue lupa siapa yang pernah bilang ini).

Oh iya, gue juga ingin mengomentari orang-orang di luar sana yang agak enggak terlalu suka sama cara cerita gaya hidup para tokoh di AVYW yang jetset,mainannya tinggi,kesannya sombong, dan malah enggak 'nyata' gitu. Well, guys, emang itu sih kenyataannya. Gue  punya sodara yang kebetulan adalah seorang bankir yang gajinya gede,dapet mobil,supir, dan keuntungan-keuntungan lainnya, mainannya  di tempat hang out & belanja yang mahal juga, yah kayak Andrea gitu lha.  But those priveleges comes with days when dia harus sering lembur, tanggung jawab yang gede, pulang malem,ngejar targer sampe M-M-an,widih capek tenan. Jadi gue bisa membayangkan A very yuppy wedding di dunia nyata dan agak maklum dengan gaya hidup yang kayak gitu. Itu kan cuma sebagai self-reward dari apa yang udah mereka hadapi di dunia kerja.

In the end, AVYW is a okay book.Cliche, not bad,but not great either. This is the book for you if you wanna know the life of a successful banker( you know, in case you wanna have one as your lover). Meskipun AVYW mengecewakan, Ika bisa kok membuktikan bahwa dia udah berkembang jadi lebih baik sebagai penulis novel since AVYW. Buktinya, yang Antalogi Rasa sekarang laris manis. Akun twitternya si Harris Risjad(sampai post ini ditulis) aja udah punya 479 pengikut cuma dalam waktu beberapa minggu.  Haha

Joan Loves... Memborong 5 Metropop pas weekend kemarin : Morning Brew

It's book review time,minna-san.

Hari ini gue baru aja menyelesaikan novel Morning Brew dan A Verry Yuppy Wedding, 2 dari 5 buku yang gue borong di Gramedia MKG weekend kemaren.

Morning Brew


Morning Brew berpusat pada kehidupan Reney,yang terlepas dari gelar sarjana Psikologi-nya, memilih  bekerja di Morning Brew bersama teman-temannya, Ivana dan Danny.


 Reney punya pacar bernama Boy dan sudah pacaran hampir 8 tahun lamanya. Suatu hari, Boy mutusin Reney karena ia akan pindah ke London. Padahal terlepas dari nyebelinnya Boy di mata Ivana dan Danny,  Reney mencintai cowok itu dan selalu membela dia. *Feeling familiar for some of you? 




Tidak tega melihat Reney jadi vulnerable, Danny dan Ivana menyemangati Reney untuk move on dan jalan dengan cowok-cowok baru supaya bisa melupakan Boy.

My thoughts

It has an interesting storyline. Unlike a typical metropop which the main character got involved with one or two or three guys, Morning Brew membawa kita ngeliat perjalanan Reney yang involved dengan beberapa cowok (yang pastinya ga at the same time). Ada Roni, mantan temen sekantornya Boy. Ada Ari,temen dari temennya Ivana, the oh-so-eligible-bachelor. Ada Indi, pekerja di Bubble House. Ada juga Boy sendiri,yang masih suka secara enggak langsung muncul di kehidupan Reney.

Novel ini punya gaya bahasa yang enak untuk dibaca dan juga punya ending yang agak mengejutkan. Gue sendiri agak kaget dengan pilihan  Reney. Kita baru bener-bener tahu siapa 'the lucky guy' pas di akhir ceritanya.

Kayaknya  Morning Brew paling cocok dibaca kalau lagi di Starbucks atau semacamnya. Terkadang gue harus menahan air liur kalau si Reney udah mulai ngungkit kopi atau sup atau makanan lain yang ada di novel ini. Simply because gue emang orang yang gampang laper (Jangan heran kalau gue enggak kurus-kurus :p).

Novel ini juga kayaknya cocok buat orang-orang yang sedang menghadapi kasus patah hati,terutama yang  setelah bertahun-tahun pacaran. Reney ngajarin bahwa kita masih bisa melanjutkan hidup tanpa si cowok itu. Mungkin enggak selalu yang udah bertahun-tahun pacaran ternyata yang ditakdirkan buat kita pada akhirnya. We'll never know. And you can always count your little voice inside your heart to know what to do in your life

To sum up, novel ini emang enggak lucu-lucu banget and honestly, there's something missing in this novel yang membuat gue suka lompat-lompat bacanya, tapi ada pelajaran yang cukup bagus yang gue dapetin :
Cukup ingat saja bahwa jatuh cinta dan patah hati adalah rumus pasti dalam dunia percintaan. Namun jangan pernah patah semangat dan takut mendengarkan bisikan hati kecil karena dia takkan pernah menyesatkan perjalanan kita. Just enjoy the ride :D

Tunggu review buku yang lain dari gue ya... XD