Sunday, October 2, 2011

Joan Loves.... Fanny Crosby

Kalau ada yang nanya siapa musisi gospel favorit ke orang,mungkin mereka  bakal ngejawab Hillsong, Don Moen, Sari Simorangkir, True Worshipper, Jars of Clay, Mike,dll. Gue pribadi, musisi gospel yang paling gue suka favorit udah meninggal, tapi karyanya masih ada sampai sekarang. Mungkin bagi orang-orang yang grow up dengan nyanyi Kidung Jemaat pasti tahu siapa dia. Dia adalah Fanny J. Crosby.



Fanny J Crosby

Frances Jane Crosby (biasanya dikenal Fanny Crosby) lahir lahir dengan orang tua miskin, John dan Mercy Crosby, pada tanggal 24 Maret 1820. Pada waktu itu ia terlahir dengan keadaan normal. Satu setengah bulan setelah kelahirannya, seorang dokter ngasih resep  hot mustard poultices buat ngobatin infeksi mata yang diderita Fanny. Bukannya sembuh, Fanny malah jadi buta permanen :(.

Beberapa bulan kemudian, ayah Fanny sakit dan akhirnya meninggal. Mercy Crosby, menjadi janda pada umur 21 tahun, mencari nafkah sendiri sebagai pembantu rumah tangga, sedangkan Fanny diasuh oleh neneknya, Eunice Crosby.

Neneknya mengajar dia sendiri dan menjadi mata bagi gadis kecil itu, dengan bersemangat menjelaskan tentang fisik dunia. Pengajaran yang sangat cermat dari neneknya menolong membangun kemampuan deskriptif Fanny, dia juga memelihara rohani Fanny. Dia membaca dan dengan cermat menjelaskan tentang Alkitab kepada Fanny dan selalu menekankan pentingnya berdoa. Ketika Fanny tertekan karena tidak dapat belajar seperti anak-anak yang lainnya, neneknya mengajar dia untuk berdoa kepada Tuhan untuk diberi pengetahuan.


Pemilik rumah Crosby juga memiliki peran penting untuk perkembangan Fanny. Ibu Hawley membantu Fanny untuk menghafal ayat Alkitab dan gadis muda ini sering belajar lima pasal setiap minggu. Dia tahu Kitab-kitab Taurat, Kitab Injil, Amsal, Kidung Agung, dan beberapa inti kitab Mazmur. Dia membentuk daya ingat yang sering membuat heran teman-temannya, tetapi Fanny percaya bahwa dia tidak berbeda dari teman-temannya yang lain. Kebutaannya benar-benar telah memaksa dia untuk lebih membangun daya ingatnya dan daya konsentrasinya. Kebutaan tidak pernah membuat Fanny mengasihani diri sendiri dan dia tidak memandang kebutaan sebagai sesuatu yang mengerikan. Pada usia 8 tahun dia mengarang ayat sederhana ini:




"Oh, what a happy child I am, although I cannot see! I am resolved that in this world contented I will be! How many blessings I enjoy that other people don't! So weep or sigh because I'm blind, I cannot - nor I won't."



Pada tahun 1834 Fanny belajar di New York Institute for the Blind (Institut New York untuk orang buta) dan dia tahu bahwa ini adalah jawaban doanya atas pendidikan. Dia masuk ke sekolah itu ketika dia berumur 12 tahun dan mengajar di sana selama 23 tahun. Dia menjadi  seorang yang terkenal di sekolah dan diminta untuk menulis puisi-puisi di hampir setiap ada kesempatan.



Pada 5 Maret 1858, Fanny menikahi dengan Alexander Van Alystyne, mantan murid di institut dan saat itu mengajar di sana sebagai seorang profesor. Dia adalah salah seorang musisi yang dianggap sebagai salah satu pemain organ terbaik di daerah New York. Fanny sendiri adalah pemain harpa yang handal, memainkan piano, dan memiliki suara sopran yang bagus. Meskipun sudah menjadi wanita yang lanjut usia (Fanny hidup hingga berusia 95 tahun), Fanny masih duduk di depan piano dan memainkan berbagai karya musik klasik dari himne sampai "ragtime". Bahkan kadang-kadang dia juga memainkan himne tua dengan gaya jazz.




[caption id="" align="alignnone" width="220" caption="Fanny Crosby and Alexander Van Alstyne"][/caption]

About her blindness


Satu lagi hal yang gue kagumi oleh Fanny adalah dia tidak pernah menyesal dengan kebutaannya. Justru dia bersyukur dan kalau bisa milih, dia tetap milih menjadi buta supaya saat dia meninggal, wajah pertama yang akan dia lihat adalah wajah Tuhan. She said:




It seemed intended by the blessed providence of God that I should be blind all my life, and I thank him for the dispensation. If perfect earthly sight were offered me tomorrow I would not accept it. I might not have sung hymns to the praise of God if I had been distracted by the beautiful and interesting things about me.


If I had a choice, I would still choose to remain blind...for when I die, the first face I will ever see will be the face of my blessed Saviour.



Her Works


Setelah dia menikah, Fanny meninggalkan institut dan dalam beberapa tahun dia menemukan pekerjaan yang benar-benar dia inginkan, yaitu menulis himne. Dia membuat kesepakatan dengan penerbit Bigelow dan Main untuk menulis tiga himne setiap minggu untuk dipakai di publikasi sekolah minggu mereka. Kadang-kadang Fanny menulis enam atau tujuh himne setiap hari. Meskipun Fanny dapat menulis puisi yang rumit dan mengarang musik klasik, himne-himnenya bertujuan untuk membawa pesan Injil kepada semua orang yang tidak mau mendengarkan khotbah. Kapan pun dia menulis sebuah himne, dia berdoa agar Tuhan menggunakan himne tersebut untuk membawa banyak jiwa kepada-Nya.


Pada masanya, tim misionaris Dwight L. Moody dan Ira D.Sankey secara efektif memperkenalkan himne Fanny Crosby's kepada orang banyak. Saat ini, beberapa dari himnenya terus membawa banyak jiwa kepada Juruselamat mereka, baik untuk keselamatan maupun penghiburan: "Blessed Assurance"(Kuberbahagia, Yakin Teguh); "All the Way My Savior Leads Me"(Di Jalan 'Ku Diiring); "To God Be the Glory"(Terpujilah Allah); "Pass Me Not, O Gentle Savior"(Mampirlah, dengar Doaku); "Safe in the Arms of Jesus"(S'lamat di Tangan Yesus); "Rescue the Perishing"; "Jesus, Keep Me Near the Cross"(Pada Kaki SalibMu); "I Am Thine, O Lord"(Aku MilikMu, Yesus, Tuhanku); dan masih banyak lagi lainnya.


Meskipun himne yang ditulisnya mengalami kemunduran pada tahun-tahun terakhir, hampir sampai pada hari kematiannya pada tahun 1915, Fanny aktif membahas pekerjaan** dan pelayanan misi kepada penduduk miskin di Amerika. Dia mencoba membawa orang-orang kepada Juru Selamatnya tidak hanya melalui himnenya tetapi juga melalui kehidupan pribadinya yang baik. Apa yang terjadi ketika Fanny meninggal? Mungkin salah satu dari himne terakhirnya ini yang paling tepat menceritakannya:




"When my lifework is ended and I cross the swelling tide,
When the bright and glorious morning I shall see,
I shall know my Redeemer when I reach the other side,
And His smile will be the first to welcome me.


I shall know Him, I shall know Him,
And redeemed by His side I shall stand!
I shall know Him, I shall know Him
By the print of the nails in His hand."



Fanny Crosby kemungkinan menjadi penulis himne terbanyak di sepanjang sejarah, ia menulis lebih dari 8.000 himne. Kurang lebih dua ratus nama pena yang berbeda diberikan untuk karya-karyanya oleh para penerbit buku-buku himne sehingga masyarakat tidak tahu bahwa dia telah menulis sedemikian banyaknya. Dia menulis kurang lebih tujuh himne atau puisi dalam sehari. Pada beberapa kesempatan, ketika mendengar sebuah lagu himne yang belum pernah dikenalnya, dia akan menanyakan tentang pengarangnya, dan ternyata himne tersebut adalah salah satu dari karya miliknya! source: http://biokristi.sabda.org/frances_jan_van_alystine_fanny_crosby


"SAVED BY GRACE"


Hampir semua lagu ciptaannya Fanny Crosby gue suka, tapi yang paling paling paling gue suka adalah "SAVED BY GRACE". Lagu ini emang enggak ada versi Indonesianya. Udah gue cari-cari di Kidung Jemaat, Nyanyikanlah Kidung Baru, Pelengkap Kidung Jemaat,enggak ada. Sayang banget, padahal liriknya tuh bagus banget, menceritakan tentang orang yang enggak akan takut jika nanti ajalnya tiba karena ia yakin akan bertemu dengan Tuhan.


Himne yang satu ini juga kesukaannya Fanny Crosby. She once said: "There is one hymn I have writ­ten which has never been pub­lished. I call it my soul’s po­em. Somet­imes when I am trou­bled, I re­peat it to my­self, for it brings comfort to my heart."


Lyrics: Fanny J. Crosby
Music: George C. Stebbins

Some day the silver cord will break,
And I no more as now shall sing;
But oh, the joy when I shall wake
Within the palace of the King!

Refrain:
And I shall see Him face to face,
And tell the story—Saved by grace;
And I shall see Him face to face,
And tell the story—Saved by grace.

Some day my earthly house will fall.
I cannot tell how soon ’twill be;
But this I know—my All in All
Has now a place in Heav’n for me.

Some day, when fades the golden sun
Beneath the rosy tinted west,
My blessed Lord will say, “Well done!”
And I shall enter into rest.

Some day: till then I’ll watch and wait,
My lamp all trimmed and burning bright,
That when my Savior opens the gate,
My soul to Him may take its flight.

play

http://www.hymnpod.com/wp-content/uploads/2010/04/saved-by-grace.mp3







the instrumental video



No comments:

Post a Comment